Kepolisian Kudu Jelas Tentang Peraturan Larangan Musik, Merokok Saat Berkendara

otobalancing.net – Kangbro jika sampeyan melihat diberbagai sudut medsos, berbagai argumen hingga kritisi tentang peraturan anyar yang memberikan sanksi bagi pengguna kendaraan baik motor, mobil maupun kendaraan yang mendengarkan musik, radio hingga merokok merupakan bentuk pelanggaran yang ancamannya denda 750rb atau paling lama kurungan 3 bulan.

Aturan ini menilik dari UU No 22 tahun 2009 pasal 106 ayat 1 pasal 283 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, sebenarnya peraturan ini bukanlah peraturan baru, namun seiring berjalan sejak terbitnya UU tersebut hingga saat ini ada banyak perubahan dan revisi salah satunya pengendara masih tetap diperkenankan mendengarkan musik dan merokok, nah ini yang kemudian akhir2 ini diangkat dan menjadi sebuah larangan, karena banyak masyarakan memberikan komentar beragam mengenai peraturan ini serta penerapannya selama ini.

Peraturan di UU ini kudu dijelaskan secara spesifik, dimana diduga menghilangkan konsentrasi dan wajar tersebut sering menjadi salah tafsir :

Penuh Konsentrasi Dan Wajar

Jika dikatakan definisi dari penuh konsentrasi ini adalah tidak terganggunya perhatian pengendara lantaran karena sakit, lelah, mengantuk, menggunakan telpon, menonton televisi dan video yang terpasang di kendaraan, hal ini juga berarti menggangu saat meminum minuman berakohol dan obat2 an yang mengganggu konsentrasi, karena yang namanya gangguan saat berkendara yang mengakibatkan hilangnya konsentrasi dan ketidakwajaran berkendara tidak bisa hanya mengacu dengan UU No 22 tahun 2009 pasal 106 ayat 1 pasal 283 tentang lalu lintas dan angkutan jalan saja.

Setuju Asal Jelas

UU No 22 tahun 2009 pasal 106 ayat 1 pasal 283 tentang lalu lintas dan angkutan jalan menjadi patokan dalam keselamatan berkendara, ungsur peraturan dan perilaku pengendara juga di jelaskan karena inti dari UU tersebut adalah pengemudi kudu mengemudi dengan penuh konsentrasi, jadi jika UU tersebut masih belum jelas artinya mendengarkan musik dan merokok tidak dilarang asalkan konsentrasi tidak terganggu.

Akibat merokok di jalan : Miris…Seenaknya merokok di saat berkendara, Mata Rider ini terluka parah kena Bara Api Rokok Pengendara di depannya

Makanya aturannya juga kudu jelas biar masyarakat juga tidak bingung karena memang tidak dijelaskan dan disebutkan larangannya dalam mengganggu konsentrasi, berikut berbagai macam opini munculnya peraturan ini di 2018 namun tidak disebutkan dan hanya menjadi sebuah argumen menjebak :

  1. Terkena masalah berat dan stress (hilang konsentrasi – tilang)
  2. Tidak mengenal rute dengan baik (hilang konsentrasi – tilang)
  3. mendengarkan musik dengan volume keras
  4. Makan dan minum
  5. Menempatkan aksesoris di dasboard (hilang konsentrasi – tilang)
  6. Menerima panggilan telpon
  7. Ngobrol dengan penumpang (hilang konsentrasi – tilang)
  8. Penggunaan transmisi tidak sesuai (Opo iki maksute)
  9. Melihat layar GPS
  10. Menggunakan headset

Sebenarnya menggemaskan jika bicara peraturan ini, karena setiap orang mempunyai reflek dan kontrol yang tidak sama, karena ada yang malah lebih konsentrasi kala mendengarkan musik, kala merokok, kala melihat GPS dal lain sebagainya…makanya kudu jelas dan jangan sampai dinas terkait di olok2 masyarakat karena menciptakan peraturan yang tidak jelas dan akhirnya isi dari peraturan tersebut dijadikan permainan.

Silahkan Memberikan Tanggapan Di Bawah Ini