Tuntutan Aksi Mogok Ratusan Sopir Angkot Surabaya

Kemarin selasa tanggal 31 Oktober 2017 ratusan angkot surabaya berunjuk rasa menuntut dihapusnya transportasi online seperti Gojek, Grab dan Uber karena dianggap merugikan pendapat mereka secara signifikan, para sopir angkot memprotes bahwa transportasi online secara hukum belum ada aturannya namun sudah dapat beroperasi serta menganggap pihak terkait dalam hal ini pemerintah Jawa Timur dan Surabaya hanya diam dan seakan cuek dengan keadaan angkot di kota Surabaya.

mereka juga mengatakan bentuk kerugian terbesar dari segi penghasilan yaitu menurun hingga 50%, mereka beranggapan bahwa mereka diatur dengan aturan trayek, berbeda dengan online yang tidak ada trayek sehingga bisa beroperasi dimana saja dan kapan saja, para sopir angkot ini juga memprotes jika angkutan online juga harus KIR dan permohonan mediasi ditolak oleh keputusan menteri dan MA sehingga para sopir angkot ini menggagap ada akal akalan dari pemerintah agar transportasi online legal dan resmi beroperasi seperti angkutan konvensional sehingga menuntuk penghapusan angkutan serta seklaigus aplikasi online tersebut.

Menilik tuntutan para sopir angkot ini dari kacamata konsumen dimana sejak lama saya sudah infill untuk naik angkot dimana dari segi kenyamanan dan efisiensi sangat kurang bahkan kriminalisasi dan pelecehan di angkot sering terjadi, uji KIR atau kelayakan kendaraan juga tidak sesuai dimana terlihat banyak angkot yang sudah tidak layak jalan, ban yang sudah tipis dan terkadang mogok sehingga membuat penumpang terlambat sampai tujuan atau menunggu hingga kendaraan bisa jalan kembali, wajar jika konsumen lebih memilih angkutan online yang lebih nyaman, cepat dan gak ribet.

Pertanyaan saya kepada sopir angkot konvensional, Jika menganggap akutan online pendapatannya lebih dari angkutan konvensional, mengapa para sopir angkutan konvensional tidak beralih ke jenis angkutan online…???

Dan jawaban yang pasti terucap dari sopir angkot adalah soal peraturan angkutan online yang mengatakan secara hukum belum ada peraturan resmi dan dianggap ilegal

Padahal saat ini sudah ada perusahaan/paguyuban angkutan online yang sudah mempunyai izin pendirian usaha dengan minimal mempunyai 5 unit kendaraan sebagai syarat minim pendirian izin usaha, lantas apa yang menjadi masalah…???

Saya menduga bahwa sopir angkot konvensional ini hanya tidak mau menerima adanya teknologi modern, mereka juga lupa bagaimana mereka juga di masa lalu menindas angkutan becak yang kemudian diganti dengan angkot di surabaya, ya inilah yang dinamakan perubahan jaman memang tidak semua bisa menerima perubahan jaman, sama seperti penarik becak di masa lalu yang merasa pendapatannya turun drastis akibat adanya angkot, namun proses modernisasi harus selalu di dukung, meski ada pro dan kontra di dalamnya dan tugas pemerintah untuk bisa mengambil jalan tengah sehingga nantinya yang lama bisa tergantikan dengan transportasi yang lebih modern demi kepentingan masyarakat, karena bagaimanapun masyarakat yang merasakan, menikmati dan menilai bagaimana kondisi angkutan pada saat ini.

Artikel Terkait :

Silahkan dibaca artikel terbaru lainnya :

 

1 KOMENTAR

  1. bener mas priyo. kadang suka konyol sama angkot ini. gak terima dengan kemajuan teknologi .
    transportasi online kan kendaraan pribadi , dan medianya untuk berkumpul itu goek gra. sama seperti angkot tetapi angkot itu koperasi yang memegang.

    tapi supir angkot gak bisa sembarang pindah juga mas. kan mereka kan cuman jadi supir,belum tentu ada kendaraan pribadinya.

Silahkan Memberikan Tanggapan Di Bawah Ini