Hallo pembaca otobalancing, setelah di artikel sebelumnya saya menulis tentang impresi awal Benelli TNT 250, kini saatnya saya akan membagikan pengalaman saya saat mengendarai motor yang berharga 55 juta OTR Surabaya ini, secara desain motor ini kelihatan gahar, raungan knalpot standart saja membuat orang bakalan bingung ini moge berapa cc, nah kejadian itu sering saya alamin saat mengendarai Benelli TNT 250 ini, bahkan sampai ada yang mengikuti saya dari belakang, saya pelan maupun kencang yang dibelakang juga ngikut, saya kasi jalan buat nyalip eh gak nyalip nyalip…what the…

Namun kejadian itu memang tidak bisa dipungkiri lagi karena rasa penasaran, mungkin merek Benelli bagi sebagian besar masyarakat masih belum Familiar, sekedar informasi bahwa di Jatim sendiri main dealernya hanya ada satu yaitu PT. BENELLI PERKASA MOTOR, Jl. Kranggan 100 Surabaya, disini anda bisa mencoba dan bertanya langsung apa saja yang kalian inginkan, selama ada unit test ridenya, tapi Insya Allah kayaknya ada terus deh.

Ada sebuah kejadian menarik saat saya mampir di sebuah mini market di kota Surabaya, dimana banyak orang secara bergantian mengerubungi Benelli TNT 250, pada saat itu saya lagi belanja sesuatu, dan saat saya mendekat bermaksud mengambil foto mereka, eh malah kabur….gak kenapa, emang tampang saya sangar yah…ternyata mereka semua penasaran apalagi saat saya datang dengan raungan knalpot Benelli TNT 250 yang terkenal merdu bagai Moge, raut muka heran dan pertanyaan seputar motor mengalir deras, dan saya harus sabar menjawab setiap pertanyaan itu, sampai lemas.

Benelli TNT 250 tergolong motor sport yang cukup bersahabat untuk riding harian, kalau dibandingkan dengan motor sekelas, yang bikin nyaman tentu saja ergonominya yang nyaman banget dengan posisi duduk cukup rileks, nggak terlalu bungkuk. Kemudian jok Benelli TNT 250 memang sangat nyaman dan membuat betah berlama-lama riding di atas motor.

Dalam kondisi berhenti terutama di lampu merah, memang motor ini sangat berat, bayangin 196 kg, tapi hal itu tidak terjadi kalau motor sudah berjalan, enteng banget kayak bukan motor yang mempunyai berat hampir 200 kg, mau melintas di tengah kemacetan pun nggak ada masalah, asal hati-hati jangan sampai stang fat-barnya menghantam spion mobil jika dipaksakan.

Untuk berkendara jauh, wah apalagi…enak banget, alasannya ya seperti yang sudah saya ulas di artikel sebelumnya jika posisi ergonominya sangat bisa diandalkan.

Lebih lengkap baca disini : Riding Harian Benelli TNT 250 & Harga Cicilan Benelli

Nah pembaca, apakah layak Benelli TNT 250 ini untuk anda miliki dengan harga 55 Juta OTR Surabaya?

Jika anda ingin tampil beda dibanding dengan motor sekelas lainnya, ya motor ini jawabannya, bahkan gak perlu modif lagi, lagian apa juga yang harus dimodif, wong Cakram sudah kayak moge yang dilengkapi Dual Disk Brake kanan dan kiri, Shokbeker depan sudah Up Side Down, raungan mesin moge punya, ban dan pelek sudah super lebar, saya kira gak perlu di modif banyak sudah ganteng banget kok motor ini.

Perbandingan dengan motor kelas yang lain :

Benelli mempunyai tarikan yang halus di bawah dan memang tenaganya baru kerasa di RPM tinggi, powernya Benelli memiliki puncak di 31,75 tk @12000 rpm, dan torsi 20 N.m/9000 rpm, disandingkan dengan knalpot standartnya, seakan terdengar moge 4 silinder, padahal cuman 2 silinder dan inilah kelebihan yang tidak dimiliki motor dikelasnya walau motor sekelasnya sudah diupgrade, kayaknya jauh dengan suaranya Benelli TNT 250, sementara pada handling, meski memiliki bobot terberat di kelasnya yaitu 196 kg dan mempunyai lebar 800mm serta jarak sumbu roda terpanjang di kelasnya yakni 1.405 mm, hal ini tidak mengurangi kenyamanan dalam mengendarai motor ini dan saya merasakan Benelli TNT 250 ini stabil saat dipacu dijalan lurus, posisi setang yang lebih tinggi, membuat motor ini tentu lebih nyaman untuk perjalanan jauh.

Pendinginan Radiator :

Panas pada radiator sudah pasti merupakan momok bagi motor dengan cc besar, berhubung Benelli TNT 250 ini bermesin lumayan besar tentunya harus didukung dengan sektor pendinginan yang mumpuni, nah Benelli TNT 250 telah menjawab keraguan itu, di spidometer di kotak indikator terdapat ukuran suhu panas radiator, kalo gak salah nih pada saat suhu mencapai 90 C, kipas akan menyala dan segera hembusan hangat ke kaki terasa, namun panasnya ini masih mending dibandingkan panas dari motor merek lain di kelas yang sama, katanya lebih dingin Benelli TNT 250, nah… apalagi performa mesin pun tidak terasa mengalami penurunan ketika mesin dalam kondisi panas, cocok banget lah motor ini dipakai di kemacetan Surabaya maupun kota-kota lainnya yang biasanya macet.

Nah…sampai di penghujung bahasan “Riding Harian Benelli TNT 250 (Bagian 2)” ini, jika saya ditanya apakah layak Benelli TNT 250 ini untuk dimiliki, saya menjawabnya layak dong, apalagi dengan semua gambaran yang sudah saya beberkan diatas tentu sangat layak.

Namun pilihan tetap ditangan anda, karena selera antara saya dan anda pastilah berbeda, ikuti kata hati anda agar tidak menyesal dikemudian hari.

Sampai ketemu di “Riding Harian Benelli TNT 250 (Bagian 3)”, stay tune….

Cafe Racer 1130

Artikel terkait :

 

Bagaimana Tanggapan Anda :